RANGKUMAN
“Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd
Di
susun oleh :
NAMA
: SRI HERDIANA
NPM
: 1640605002
LOKAL
: A
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017
A. Pengertian
Fonologi
Fonologi berasal
dari bahasa Yunani fhone “bunyi” dan logos artinya ilmu, jadi secara bahasa Fonologi berarti
ilmu yang mempelajari tentang bunyi/ ucapan. Secara istilah Fonologi adalah
ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, Fonologi
merupakan cabang tata bahasa. Fonologi juga disebut tata bunyi. Dalam arti lain
Fonologi disebut
sebagai bagian tata bahasa yang menganalisis bunyi secara umum. Fonologi dalam
tuturan ilmu bahasa dibagi menjadi dua bagian yakni, fonetik dan fonemik. Beberapa pengertian Fonologi menurut
para ahli adalah bunyi bahasa yang
berfungsi dalam ujaran dan yang dapat membedakan makna yang menjadikan objek
salah satu disiplin linguistik
(Padeta 2003 : 3). Selanjutnya dalam Fonologi menjelaskan bahwa tata bahsa
memperhatikan persamaan dan membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa
yang lain Briere dalam Padeta (2003:3). Jika ditarik benang merahnya Fonologi
adalah merupakan tata bahasa yang membedakan makna antara objek/kata satu
dengan yang lainnya.
B.
Ilmu-Ilmu
yang terkait dalam Fonologi
Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi
fenom sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari
cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan
pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang
mempelajari mengasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa
diproduksi oleh alat ucap manusia.
Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan maka
bunyi yang dihasilkan adalah vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan dari
beberapa hal berikut;
a. Posisi bibir
(bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
b. Tinggi
rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi).
c. Maju mundurnya
lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum atau lengkung kaki gigi)
Untuk lebih
jelasnya, perhatikan diagram vokal berikut!
Depan
|
Pusat
|
Belakang
|
|
Atas
|
I
|
-
|
U
|
Tengah
|
E
|
e
|
O
|
Bawah
|
-
|
a
|
-
|
Jika bunyi
ujaran, ketika udara keluar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah
bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai bermacam-macam, ada hubungan
yang bersifat seluruhnya, dan ada pula yang sebagian yaitu dengan menggeser
atau mengadukan arus suara atau tabel sehingga menghasilkan konsonan yang
bermacam-macam pula. Pembagian fonem konsonsan dalam bahasa Indonesia, misalnya
berikut ini.
a. Konsonan
hambat, bersuara, bilabial; b
b. Konsonan
hambat, tak bersuara, bilibial: p
c. Konsonan
hambat, bersuara, bilabial:m, dan seterusnya.
Fonetik artikulatoris meneliti
alat-alat organik yang dipakai
untuk menghasilkan bunyi
bahasa. Fonetik organis,
atau fonetik artikulatoris, atau
fonetik fisiologis
mempelajari bagaimana mekanisme
alat-alat bicara yang
ada dalam tubuh manusia menghasilkan
bunyi bahasa.
Fonetik
akustik menyelidiki bunyi
menurut sifat-sifatnya sebagai
getaran udara. Fonetik
akustik menyangkut bunyi
bahasa dari sudut
bunyi sebagai getaran
udara, dari segi
bunyi sebagai gejala fisis. Bunyi-bunyi
diselidiki frekuensi getarannya, amplitudo, intensitas, dan
timbrenya oleh alat pembantu seperti oscillograph.
Fonetik auditoris mempelajari
bagaimana mekanisme telinga
menerima bunyi bahasa sebagai
getaran udara. Fonetik jenis
ini cenderung dimasukkan ke
dalam neurologi ilmu kedokteran.
Fonemik adalah ilmu
bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa sebagai (fonem) pembeda makna.
Apabila kita berujar lalu arus ujaran itu kita potong atas bagian-bagiannya,
dan bagian-bagian itu dipotong-potong lagi sampai pada unsur-unsurnya yang
terkecil maka arus ujaran yang terkecil itu disebut bunyi ujaran. Tiap bunyi ujaran dalam tiap bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang dapat
membedakan arti ini disebut fonem.
Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada tiga puluh dua buah fonem, yang
terdiri atas;
a. Fonem vokal 6
buah;a,i,u,e,o,∂
b. Fonem diftong 3
buah, oi,ai,ou
c. Fonem konsonan
23 buah,
Selain fonem
dan fonetik, hal yang perlu dipahami dalam berujar adalah intonasi. Intonasi mengatur tinggi-rendah, keras lunak, cepat
lambatnya suara dalam berujar sehingga ujaran dapat dipahami oleh pendengar.
C.
Alat
Ucap Bahasa
Fonetik
artikulatoris membicarakan cara-cara alat ucap untuk membentuk berbagai bunyi
bahasa. Dalam hal ini yang terlebih dahulu untuk dipelajari adalah alat ucap
dan bagian-bagiannya.
Alat-alat
ucap manusai yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi
3 bagian :
1. Artikulator,
ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat me
nyentuh bagian-bagian alat ucap lainnya (titik artikulasi) serta dapat
membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak dibagian
bawah atau rahang bawah. Alat ucap yang dimaksud artikulator seperti :
a) Bibir
bawah (labium)
b) Gigi
Bawah (dentum)
c) Ujung
Lidah (apeks)
d) Depan
Lidah (front of the tongue)
e) Tengah
Lidah (lamino)
f) Belakang
lidah (dorsum)
g) Akar
lidah
2. Titik
artikulasi, ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan
bersifat statis. Alat-alat ini terdapat dibagian atas atau rahang atas.
Alat-alat ucap yang dimaksud seperti :
a) Bibir
atas (labium)
b) Gigi
atas (dentum)
c) Lengkung
kaki gigi atas (alveolum)
d) Langit-langit
keras (alatum)
e) Langi-langit
lunak (velum)
f) Anak
tekak (uvula)
3. Alat-alat
lain, yang dimaksud ialah alat-alat bicara selain artikulator dan titik
artikulasi yang dapat menunjang terjadinya bunyi bahasa. Alat ucap yang
dimaksud seperti :
a) Hidung
(nose)
b) Rongga
Hidung (nasal cavity)
c) Rongga
Mulut (oral cavity)
d) Pamgkal
Kerongkongan (laring)
e) Katup
Jakun (epiglotis)
f) Pita
Suara
g) Pangkal
Tenggorokan (laring)
h) Batang
Tenggorokan (trakea)
i)
Paru-paru
j)
Sekat Rongga dada
(diafragma)
k) Saraf
Diafragma
l)
Selaput Rongga Dada
(pleural cavity)
m) Bronchus.
D.
Manfaat
Fonologi
Ejaan
adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah 2
unsur yaitu, segmental dan suprasugmental, ejaanpun menggambarjkan atau
melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
Perlambangan
usur segmental bunyi ujar tidak hanya bagimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam
bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar
dalam bentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat, bagiamana memenggal suku kata,
bagaimana menulis singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan
sebagainya. Perlambangan unsur suprasugmental bunyi ujar menyangkut bagaimana
melambangkan tekanan, nada, durasi, jeda, dan intonasi. Perlambangan unsur
suprasugmental ini dikenal dengan istilah tanda
baca atau pungtuasi.
Tata
cara penulisan
bunyi ujar ini biasa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil kajian
fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian
fonemik terhadap ejaan suatu bahsa disebut ejaan fonemis.
No
|
Bunyi bahasa
|
Huruf
|
Penjelasan
|
Fonem
|
A
|
merupakan vokal terbuka rendah-lamah tengah-tak
bundar atau vokal vokal tengah pendek setengah terbuka yang dihasilkan dengan
bibir netral;
|
|
I
|
merupakan vokal tertutup tinggi-kuat-depan-tak
bundar yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan hampir menyentuh
langit-langit dengan kedua bibir agak terentang ke samping
|
||
U
|
merupakan vokal tertutup
belakang-bundar-tinggi-kuat yang dihasilkan dengan meninggikan bagian
belakang bagian belakang lidah dengan posisi kedua bibir agak maju ke depan
dan membundar
|
||
E
|
merupakanvokal agak tertutup
sedang-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan daun lidah yang
dinaikkan dan diiringi bentuk bibir yang netral, artinya, tidak
terentang dan juga tidak membundar
|
||
O
|
merupakan vokal agak tertutup sedang kuat
belakang bundar yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar;
|
||
Fonem diftong
|
Ai
|
Untuk
membunyikan diftong ai, lidah berada pada kedudukan membunyikan
vokal hadapan luas [a], dan secara cepat geluncurkan lidah ke arah cara
membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Hujung lidah dinaikkan tetapi tidaklah
setinggi membunyikan vokal [i]. Hujung lidah terkena pada gigi bawah.
Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak. Glotis dirapatkan
dan pita suara bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana
dan bibir dihamparkan.
|
|
Oi
|
Bunyi
diftong terhasil apabila bunyi satu vokal menggeluncur dengan cepatnya ke
satu vokal yang lain. Caranya ialah lidah, pada mulanya,
diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal, kemudian
digeluncurkan ke arah membunyikan vokal yang lain lalu menjadi
gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan diftong oi pula, lidah diletakkan
sebagaimana menghasilkan bunyi vokal belakang separuh sempit [o],
dan dengan cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal
hadapan sempit [i]. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak
|
||
Au
|
Bunyi
diftong [Au] ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya pada
posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal
belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian belakang lidah ini tidak
benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya
tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini
bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan
bahagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas
|
||
|
|
Fonem konsonan
|
B
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B]
dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
|
C
|
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian samping gigi
atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.
|
||
D
|
Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas, jentikannya diawali
oleh desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.
|
||
F
|
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.
|
||
G
|
Pita suara dirapatkan,
Arus udara dari paru-paru yang keluar melalui rongga mulut mengetarkan pita
suara, Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut bersuara [g].
|
||
H
|
Langit-langit bagian yang
lunak sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.
|
||
J
|
Depan lidah diangkat tinggi ke arah gusi, Bibir di hamparkan, Lelangit
lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat udara dari paru-paru
ke rongga hidung, Pita suara digetarkan sambil lidah bergerak pantas ke
kedudukan untuk membunyikan vokal [j], Bunyi yang dihasilkan ialah bunyi
separuh vokal lelangit keras bersuara [j]
|
||
K
|
Belakang lidah dirapatkan
ke lelangit lembut untuk membuat sekatan penuh pada arus udara, Lelangit
lembut dan anak tekak dirapatkan ke rongga tekak bagi menyekat arus udara
dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara di renggangkan, Arus udara keluar
dari paru-paru melaui rongga mulut tanpa menggetarkan pita suara, Sekatan
udara yang dibuat oleh belakang lidah dilepaskan serta merta. Bunyi yang dihasilkan
ialah letupan lelangit lembut tidak bersuara [k]
|
||
L
|
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan
mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari
sisi-sisinya.
|
||
M
|
Bibir bawah dan bibir atas
dirapatkan untuk membuat sekatan pada arus udara, Lelangit lembut dan anak
tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus udara dari paru-paru ke rongga
hidung, Arus udara dari paru-paru masuk ke rongga mulut dan terus ke rongga
hidung, Pita suara dirapatkan untuk
membuat getaran, Arus udara dilepaskan
perlahan-lahan.
|
||
N
|
Depan lidah dinaikkan ke
lelangit keras untuk membuat sekatan arus udara, Lelangit lembut dan anak
tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus udara yang terkeluar dari
paru-paru ke rongga hidung, Pita suara dirapatkan dan digetarkan, Arus udara
daripada paru-paru melalui rongga mulut dan terus ke rongga hidung, Udara
yang tersekat oleh depan lidah dan lelangit keras dilepaskan pelahan-lahan
|
||
P
|
Ujung bibir diledakkan
melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari
pita suara.
|
||
Q
|
Suara badan
lidah (dorsal) aspirasi. Lafalkan seperti konsonan ch dalam bahasa Indonesia.
|
||
R
|
Ujung lidah digetarkan
hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.
|
||
S
|
Ujung lidah bekerja
terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh
gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.
|
||
T
|
Ujung lidah ditempatkan
(bukan diletakkan) menyentuh gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan
lepas dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.
|
||
V
|
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan
mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari
sisi-sisinya.
|
||
W
|
Bibir di bundarkan, Belakang lidah dinaikkan ke lelangit lembut,
Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat arus udara
udara dari paru-paru ke rongga hidung,
Udara dari paru-paru keluar ke rongga mulut, Pita suara digetarkan dan
lidah bergerak dengan pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal tengah [w].
|
||
X
|
suara badan
lidah (dorsal). Lafalkan mirip konsonan s, dalam bahasa Indonesia, namun
dilafalkan dengan badan lidah bukan dengan ujung lidah.
|
||
Y
|
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah, seolah hanya memberi
sedikit ruang pada mulut bagian atas.
|
||
Z
|
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.
|
||
|
|
Fonem kluster
|
Kh
|
Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut.
|
Ny
|
Tengah lidah
bersentuhan dengan langit-langit kasar.
|
||
Ng
|
Ujung lidah
ditempatkan dibelakang dan diatas gigi atas bagian depan, pojok (bagian
belakang dari lidah) diangkat dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti
mengucapkan (singing- sangsung).
|
||
Sy
|
Ujung lidah
bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa
menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.
|
Daftar Pustaka
Suparlan .2014. Panduan Lengkap
EYD . Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Zulkifli, dkk. 2014 . Bahasa Indonesia . Tarakan : Himpunan
Dosen Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
https://Mata%20Kuliahh/Smester%20II/IKD/Nurfitri%20Ramdhani%20%20Fakta,%20Hipotesis,%20Teori,%20dan%20Hukum%20ilmiah.htm
(diakses 02 Maret 2017).
https://mypojok.wordpress.com/2013/12/14/fonem-vokal-dan-vonem-konsonan-fonologi/
di akses pada 19 maret 2017
http://doadantakdir.blogspot.co.id/2014/12/penghasilan-bunyi-vokal-dan-diftong.html
di akses pada 19 maret 2017
http://sadmito.blogspot.co.id/2008/12/vocal-konsonan.html di akses pada 19 maret 2017
http://retibasa.blogspot.co.id/2010/09/normal-0-false-false-false-en-my-x-none.html di akses pada 19 maret 2017