Jumat, 03 Maret 2017

ragkuman bahasa baku dan tidak baku




NAMA        :  SRI HERDIANA
NPM           :  1640605002
LOKAL      :  A

RANGKUMAN
“BAHASA BAKU DAN TIDAK BAKU”

A.    Pengertian Bahasa Baku
Bahasa Indonesia baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk bahasanya telah dikodifikasi, diterima, dan difungsikan atau dipakai sebagai model oleh masyarakat Indonesia secara luas.
Halim (1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian masyarakat, dipakai sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya.
Pei dan Geynor (1954:203) mengatakan bahwa bahasa baku adalah dialek suatu bahasa yang memiliki keistimewaan sastra dan budaya melebihi dialek-dialek lainnya, disepakati penutut dialek-dialek lain sebagai bahasa yang paling sempurna.
B.     Fungsi Bahasa Baku
Bahasa Indonesia baku mempunyai empat fungsi, yaitu pemersatu, penanda kepribadian, penambah wibawa dan kerangka acuan.
a)    Bahasa Indonesia baku berfungsi pemersatu.
Bahasa Indonesia baku mempersatukan atau memperhubungkan penutur berbagai dialek bahasa itu. Bahasa Indonesia baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia baku mengikat kebhinekaan rumpun dan bahasa yang ada di Indonesia dengan mangatasi batas-batas kedaerahan. Bahasa Indonesia baku merupakan wahana ataualat dan pengungkap kebudayaan nasional yang utama. Fungsi pemersatu ini ditingkatkan melalui usaha memberlakukannya sebagai salah satu syarat atau ciri manusia Indonesia modern.
b)    Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai penanda kepribadian. 
Bahasa Indonesia baku merupakan ciri khas yang membedakannya dengan bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Indonesia baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa Indonesia baku. Dengan bahasa Indonesia baku kita menyatakan identitas kita. BahasaIndonesia baku berbeda dengan bahasa Malaysia atau bahasa Melayu di Singapura dan Brunai Darussalam. Bahasa Indonesia baku dianggap sudah berbeda dengan bahasa Melayu Riau yang menjadi induknya.
c)    Bahasa Indonesia baku berfungsi penambah wibawa.
Pemilikan bahasa Indonesia baku akan membawa serta wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa berkaitan dengan usaha mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi melalui pemerolehan bahasa baku. Di samping itu, pemakai bahasa yang mahir berbahasa Indonesia baku “dengan baik dan benar” memperoleh wibawa di mata orang lain. Fungsi yang meyangkut kewibawaan itu juga terlaksana jika bahasa Indonesia baku dapat dipautkan dengan hasil teknologi baru dan unsur kebudayaan baru. Warga masyarakat secara psikologis akan mengidentifikasikan bahasa Indonesia baku dengan masyarakat dan kebudayaan modern dan maju sebagai pengganti pranata, lembaga, bangunan indah, jalan raya yang besar.
d)    Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan. 
Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakainya dengan adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku itu menjadi tolok ukur pemakaian bahasa Indonesia baku secara benar. Oleh karena itu, penilaian pemakaian bahasa Indonesia baku dapat dilakukan. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku juga menjadi acuan umum bagi segala jenis pemakaian bahasa yang menarik perhatian karena bentuknya yang khas, seperti bahasa ekonomi, bahasa hukum, bahasa sastra, bahasa iklan, bahasa media massa, surat-menyurat resmi, bentuk surat keputusan, undangan, pengumuman, kata-kata sambutan, ceramah, dan pidato.
C.    Ciri-ciri bahasa baku
Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku sebagai berikut:
a)    Pelafalan sebagai bagian fonologi
bahasa Indonesia baku adalah pelafalan yang relatif bebas dari atau sedikit diwarnai bahasa daerah atau dialek.
Misalnya, kata
·         keterampilan / diucapkan / ketrampilan / bukan / ketrampilan
·         harimau / di ucapkan / harimau / bukan / harimaw
·         negeri / diucapkan / negeri / bukan / negri
·         energy / diucapkan / energy / bukan / enerji
·         TV / diucapkan / teve / bukan / tivi
b)    Bentuk kata yang berawalan me- dan ber- dan lain-lain sebagai bagian morfologi.
bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kata.
Misalnya:
·         Banjir menyerang kampung yang banyak penduduknya itu.
·         Ina sangat gemar membaca buku cerita.
·         Siswa sekolah dasar 045 belajar menulis cerita pendek.
·         Keadaan roni setelah di rawat di rumah sakit mulai membaik.
·         Anak-anak seokolah dasar di tugaskan mengumpulkan barang-barang bekas untuk di daur ulang.
·         Kuliah sudah berjalan dengan baik.
·         Sebelum pergi ke sekolah doni selalu bersalaman dengan orang tuanya.
·         Ani bersedih karena di tiggal oleh orang tuanya.
·         Wulan bergembira karena mendapat juara 1 pada lomba olimpiade sains di sekolahnya.
·         Maryam telah berprofesi menjadi dosen selama 7 tahun.

c)    Konjungsi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
·         Sampai dengan hari ini ia tidak percaya kepada siapa pun, karena semua di anggapnya penipu.
·         Ono tidak masuk sekolah selama 3 hari, karena sakit.
·         Pada hari sabtu mahasiswa PGSD lokal A di liburkan, karena mengikuti kegiatan seminar nasional.
·         Ina tidak ingin berbicara kepada ibuya, karena Ina tidak diberi jajan.
·         Terjadi banjir di desa maju mundur karena hujan  lebat yang tidak hentinya.
·         Iin jatuh karena tersandung akar pohon.

d)    Partikel –kah, -lah dan ­–pun sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
·         Bacalah buku itu sampai selesai!
·         Janganlah kamu membuang sampah di sembarang tempat.
·         Rajinlah belajar agar kamu menjadi anak yang pandai.
·         Biasakanlah untuk selalu hidup bersih.
·         Berdoalah agar segala urusanmu di mudahkan.
·         Bagaimanakah cara kita memperbaiki kesalahan diri?
·         Bagaimanapun kita harus menerima perubahan ini dengan lapang dada.
·         Sesulit apapun rintangan yang kita hadapi kita harus tetap bersyukur.
·         Ibu sudah datang. Meskipun demikian, adik masih menangis.

e)    Preposisi atau kata dengan sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku dituliskan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
·         Saya bertemu dengan adiknya kemarin.
·         Nita bermain dengan kucing peliharaannya.
·         Ali memberi undangan ulang tahunnya kepada Roni.
·         Ia benci sekali kepada orang itu.
·         Nenek iyem berterimakasih kepada pemuda itu karena telah membantunya.
f)     Bentuk kata ulang atau reduplikasi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap sesuai dengan fungsi dan tempatnya di dalam kalimat.
Misalnya:
·         Mereka-mereka itu harus diawasi setiap saat. 
·         Semua negara-negara melaksanakan pembangunan ekonomi. 
·         Suatu titik-titik pertemuan harus dapat dihasilkan dalam musyawarah itu.
·         Kupu-kupu itu terlihat sangat indah.
·         Gigi mengajak kakanya jalan-jalan ke luar kota.
g)    Kata ganti atau polaritas tutur sapa sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap dalam kalimat. 
Misalnya:
·         Saya – anda bisa bekerja sama di dalam pekerjaan ini.
·         Aku – engkau sama-sama berkepentingan tentang problem itu.
·         Saya – Saudara memang harus bisa berpengertian yang sama.
h)   Pola kelompok kata kerja aspek + agen + kata kerja sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis dan diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
·         Surat Anda sudah saya baca.
·         Kiriman buku sudah dia terima.
·         Jam tangan itu sudah saya pakai.
·         Kiriman  sudah itu sudah dia terima.
·         Undangan dari kepala sekolah sudah saya terima.
i)     Konstruksi atau bentuk sintesis sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
·         Saudaranya
·         Dikomentari
·         Mengotori
·         Harganya
·         Memberitahukan
·         anaknya
j)      Fungsi gramatikal (subyek, predikat, obyek sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
·         Kepala Kantor pergi keluar negeri.
·         Rumah orang itu bagus.
·         Ibu pergi kepasar.
·         Kepala sekolah harap menanti tempat yang telah disediakan.
·         Iyam memasak sayur.
·         Adik bermain boneka.
k)    Struktur kalimat baik tunggal maupun majemuk ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku di dalam kalimat.
Misalnya:
Mereka sedang mengikuti perkuliahan dasar-dasar Akuntansi I. Sebelum analisis data dilakukannya, dia mengumpulkan data secara sungguh-sungguh.
l)     Kosakata sebagai bagian semantik bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
Mengapa, tetapi, bagaimana, memberitahukan, hari ini, bertemu, tertawa, mengatakan, pergi, tidak begini, begitu, silakan.
m)  Ejaan resmi sebagai bagian bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap baik kata, kalimat maupun tanda-tanda baca sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
n)   Peristilahan baku sebagai bagian bahasa Indonesia baku dipakai sesuai dengan Pedoman Peristilahan Penulisan Istilah yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Purba, 1996 : 63 – 64).

D.    Pengertian Bahasa Tidak Baku
Istilah bahasa nonbaku ini terjemahan dari “nonstandard language”. Istilah bahasa nonstandar ini sering disinonimkan dengan istilah “ragam subbaku”, “bahasa nonstandar”, “ragam takbaku”, bahasa tidak baku”, “ragam nonstandar”.
Suharianto berpengertian bahwa bahasa nonstandar atau bahasa tidak baku adalah salah satu variasi bahasa yang tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya, yaitu dalam pemakaian bahasa tidak resmi (1981 : 23).
Alwasilah berpengertian bahwa bahasa tidak baku adalah bentuk bahasa yang biasa memakai kata-kata atau ungkapan, struktur kalimat, ejaan dan pengucapan yang tidak biasa dipakai oleh mereka yang berpendidikan (1985 : 116).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, jelas bahwa bahasa nonstandar adalah ragam yang berkode bahasa yang berbeda dengan kode bahasa baku, dan dipergunakan di lingkungan tidak resmi.
Bahasa Indonesia tidak baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang tidak dikodifikasi, tidak diterima dan tidak difungsikan sebagai model masyarakat Indonesia secara luas, tetapi dipakai oleh masyarakat secara khusus. Biasanya bahasa tidak baku sering digunakan saat percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur.
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku, yang diantaranya sebagai berikut ini:
  • Yang menggunakan bahasa tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata yang dia maksud.
  • Yang menggunakan bahasa tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan suatu kata, itulah yang menyebabkan kata tidak baku selalu ada.
  • Yang menggunakan bahasa sudah terpengaruh oleh orang-orang yang terbiasa menggunakan kata yang tidak baku.
  • Dan yang terakhir, yang menggunakan bahasa sudah terbiasa memakai kata tidak baku.
Contoh kata tidak baku
Misalnya seperti: aktip, pasip, apotik, efektip, karna, poto, biosfir, bis, obyek, nopember, praktek, negri, tekhnik, nasehat dan lain-lain. Kalimatnya: Saya akan keluar kota pada hari ini.



No.


Bahasa tidak baku

Bahasa baku

Keterangan bahasa baku yang benar
1.       

Ijin
Izin
Ulfah izin tidak mengikuti pelajaran seperti baisa di karenakan ada urusan keluarga.
2.       
Nopember
November
Pada bulan November akan di adakan lomba kreasi remaja.
3.       

Sarat
Syarat
Salah satu syarat menjadi guru adalah lulus sertifikasi guru.
4.       

Jenasah
Jenazah
Jenazah wanita itu akan di makamkan di kampung halamannya.
5.       

Sorga
Surga
Orang-orang baik akan di tempatkan di surga.
6.       

Telor
Telur
Nita memasak telur dadar untuk makan siangnya.
7.       

Mesjid
Masjid
Ibu-ibu mengadakan pengajian ruti di masjid.
8.       

Praktik
Praktek
Irma sedang melakukan ujian praktek olahraga di sekolahnya.
9.       

Sendal
Sandal
Bayu menggunakan sandal jepit saat masuk kamar mandi.
10.   

Taxi
Taksi
Supir taksi itu sangat baik dan peramah kepada penumpangnya.
11.   

Aktip
Aktif
Suriani aktif dalam kegiatan eksktrakurikuler di sekolahnya.
12.   

Aktivitas
Aktifitas
Aktifitas warga yang tinggal di kaki gunung merapi mulai berjalan lancar.
13.   

Cidera
Cedera
Terjadi cedera tungkai atas pada korban.
14.   

Coklat
Cokelat
Ani memberi cokelat untuk sinta.
15.   

Goa
Gua
Di tarakan terdapat beberapa gua peninggalan jepang.
16.   

Hapal
Hafal
Filza sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.
17.   

Inpus
Infus
Dian di infus akibat kekurangan cairan.
18.   

Hutang
Utang
Akibat kesulitan ekonomi, wanita tua itu tidak mampu membayar utang anaknya.
19.   

Mahluk
Makhluk
Setiap makhluk hidup saling membutuhkan satu sama lain.
20.   

Negri
Negeri
Raffi ahmad beserta keluarganya berlibur ke luar negeri.





Daftar Pustaka
Vicosta Efran. 2011. EYD Ejaan Yang Disempurnakan dan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: JAL Publishing.
Fatya Permata Anbiya. 2010. Panduan EFD dan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Transmedia
Zainal Nusyirwan. 2013. Bahasa baku dan Non Baku dalam Bahasa Indonesia. (online)
Rukanah. 2016. Penggunaan Kata Baku dan Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia. (online) https://rukanahep.wordpress.com/2016/04/05/makalah-penggunaan-kata-baku-dan-tidak-baku-dalam-bahasa-indonesia/ diakses pada pukul 15:40 27 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar