Nama : Sri Herdiana
NPM :1640605002
LOKAL : A
JURUSN : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
A. SEMANTIK
Semantik adalah cabang linguistik
yang mempelajari arti/makna yang
terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain.
Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol
kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis
simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
Pendapat
dari beberapa ahli mengenai simantik diantaranya yaitu:
Menurut
Kridalaksana (2001:1993) Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang
berhubungan dengan makna ungkapan dan dengan struktur makna suatu wicara. Makna
adalah maksud pembicaraan, pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi,
serta perilaku manusia atau kelompok.
Menurut
Tarigan (1985:7) semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang
menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya
terhadap manusia dan masyarakat. Jadi semantik senantiasa berhubungan dengan
makna yang dipakai oleh masyarakat penuturnya.
Jadi
dari beberapa definisi mengenai semantik yang sudah saya baca yang dapat saya
pahami bahwa semantik itu adalah pembelajaran tentang makna. Yang dimana
biasanya semantik itu dikaitkan dengan dua aspek lain yaitu aspek sintaksis dan
juga aspek pragmatika.
B.
JENIS-JENIS
SEMANTIK
Ada
beberapa jenis semantik, yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari
bahasa penyelidikannya adalah leksikon dari bahasa itu, maka jenis semantiknya
disebut semantik leksikal. Semantik leksikal ini diselidiki makna yang ada pada
leksem-leksem dari bahasa tersebut. Oleh kerena itu, makna yang ada pada
leksem-leksem itu disebut makna leksikal. Leksem adalah istilah yang lazim
digunakan dalam studi semantik untuk menyebut satuan-bahasa bermakna. Istilah
leksem ini kurang lebih dapat dipadankan dengan istilah kata yang lazim digunakan
dalam studi morfologi dan sistaksis, dan yang lazim didefinisikan sebagai
satuan gramatikal bebas terkecil (Chaer, 1990 : 7-8).
Jenis-jenis
semantik antara lain sebagai berikut :
1. Semantik
behavioris
Dalam semantic behavioris, maka berada dalam posisi
dintara stimulus dan respon atau pertanyan dan jawaban.
Contoh
: ibu menyuapkan makanan pada si bayi
2. Semantik
leksikal
Semantik leksikal merupakan pembahasan makna yang
lebih menitikberatkan pada makna kata sebagai satuan mandiri.
Contoh
: absurd (KBBI) ; tidak masuk akal, mustahil
3. Semantik
gramtikal
Semantik gramatikal merupakan kajian makna dalam
semantik yang khusus mengkaji makna dalam satuan kalimat.
Contoh:
masih duduk, kaka sudah tidur.
4. Semantik
logika
Pada semantik
logika, pengkajian makna lebih di arahkan pada logika. Artinya, satiap kalimat
akan di lihat dari logikanya untuk mendapatkan sebuh makna kalimat tersebut.
5. Semantik
deskriptif
Semantik deskriptif merupakan salah satu kajian
semantic yang membahas tentang makna dalam konteks terkini.
Contoh
:
(sekarang) : juara : orang yang mendapat peringkat
teratas.
(sebelumnya) : juara : pengatur atau pelerai dalam perssabungan ayam
6. Semantic
historis
Dalam semanti historis, studi makna yang di kaji
lebih memacu pada rentangan waktu, bukan perubahan bentuk kata. Padahal ini,
semantic membandingkan kata-kata berdasarkan periode atau antar kata pada masa
tertentu dengan kata pada bahasa lain.
Contoh:
(b.indonesia) : padi
(b.jawa) : pari
Fonem/d/dan/r/berkorespondensi
7. Semantik
generative
Semantik
dalam aliran semantic generative memiliki beberapa konsep, yakni kompetensi,
struktur luar dan struktur dalam.
8. Semantik
struktural
Semantik struktural bermula dari pandangan struktural
yang di pelopori oleh Saussure. Para penganut strukturalisme mempunyai pandangan
bahwa setiap bahasa merupakan sebuah sistem yang terdiri dari beberapa struktur
yang unik dan terdiri dari satuan-satuan tertentu.
C.
UNSUR
SEMANTIK
1. Tanda
dan Lambang (simbol)
Tanda dan lambang (simbol) merupakan dua unsur yang
terdapat dalam bahasa. Tanda dan lambang (simbol) dikembangkan menjadi sebuah
teori yang dinamakan semiotik. Semiotik mempunyai tiga aspek yang sangat
berkaitan dengan ilmu bahasa, yaitu aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek
pragmatik.
Pertama aspek sintaksis, sintaksis semiotik
merupakan studi tentang relasi yang sering kali tertuju pada pencarian
peraturan-peraturan yang pada dasarnya berfungsi secara bersama-sama. Sintaksis
semiotik tidak dapat membatasi diri dengan hanya mempelajari hubungan
antartanda dalam suatu sistem yang sama. Sejauh perhatian utama kita ditujukan
pada hubungan antartanda, maka kita bergerak dalam bidang sintaksis semiotik.
Kedua, aspek semantik, semantik semiotik merupakan penelitian yang tertuju pada
hubungan antara tanda dan denotatumnya, dan interpretasinya. Ketiga, aspek
pragmatik, jika yang menjadi objek penelitian adalah hubungan antara tanda dan
pemakaian tanda, maka kita memasuki bidang pragmatik semiotic.
Kata semiotik berasal dari kata Yunani semeion, yang
berarti ‘tanda’, maka semiotik berarti ‘ilmu tanda’. Semiotik adalah cabang
ilmu yang berurusan 49 dengan pengkajiaan tanda dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi
penggunaan tanda (van Zoest, 1993: 1). Selanjutnya, semiotik adalah ilmu atau
metode analisis untuk mengkaji tanda (Hoed, 1992 dalam Nurgiyantoro, 2000).
Menurut Sobur (2001), semiotik merupakan suatu model dari ilmu pengetahuan
sosial yang memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar
yang disebut dengan “tanda”. Dengan demikian, semiotik mempelajari hakikat
tentang keberadaan suatu tanda.
Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang
lain, yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain.
Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan
berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini, walau harus diakui bahwa bahasa
adalah sistem bahasa yang paling lengkap dan sempurna (Nurgiyantoro, 2000: 40).
2. Makna Leksikal dan Hubungan Referensial
Makna leksikal
merupakan unsur tertentu yang melibatkan hubungan antara makna kata-kata yang
siap dianalisis. Makna leksikal dapat berupa categorematical dan syncategorematical,
yaitu semua kata dan infleksi, kelompok alamiah dengan makna struktural yang
harus didefinisikan (dimaknai) dalam satuan konstruksi.
Hubungan
referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia luar
bahasa yang diacu oleh pembicaraan. Hubungan antara kata (lambang), makna
(konsep atau reference) dan sesuatu yang diacu atau referent
adalah hubungan tidak langsung.
Jadi dari penjelasan
tersebut yang dapat saya simpulkan mengenai makna leksikal dan hubungan
referensial bahwasannya makna leksikal itu adalah makna hubungan antara
kata-kata dengan unsur-unsur tertentu dalam sebuah peristiwa bahasa.
Hubungannya antara kata, makna kata, dan dunia kenyataan di sebut hubungan
referensial. Hubungan referensial itu adalah hubungan-hubungan yang terdapat
pada, antar (1) kata sebagai satuan fonologis yang membawa makna, (2) makna
atau konsep yang dibentuk oleh kata, dan (3) dunia kenyataan yang ditunjuk
(diacu) oleh kata.
3.
Penamaan
Kridalaksana (1993) mengartikan bahwa penamaan itu adalah proses
pencarian lambang bahasa untuk menggambarkan objek konsep, proses, dan
sebagainya. Biasanya dengan memanfaatkan perbendaharaan yang ada antara lain
dengan perubahan-perubahan makna yang mungkin atau dengan penciptaan kata atau
keompok kata.
Nama itu merupakan kata-kata yang menjadi label setiap makhluk, benda,
aktivitas, dan peristiwa di dunia. Seseorang mendapat kata-kata dengan cara
belajar dan menirukan bunyi-bunyi yang mereka dengar untuk pertama kalinya.
Nama-nama itu sendiri muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan
beragam, alam sekitar manusia berjenis-jenis. Terkadang manusia sulit
memberikan nama satu per satu. Oleh karena itu, muncul nama-nama kelompok
misalnya binatang, ikan, burung dan sebgainya. Dan juga tumbuh-tumbuhan yang
merupakan jenis binatang, jenis tumbuhan, jenis burung, dan jenis-jenis yang
lain yang terdapat di dunia.
Penamaan suatu benda di
setiap daerah atau di lingkungan kebudayaan tertentu tidak semuanya sama,
misalnya:
padi bahasa Indonesia
pare bahasa
Sunda
pale bahasa
Gorontalo.
Bagaimana hubungan antara nama dengan benda sampai
berbeda. Jadi hubungan hayati antara nama dan benda (kata-kata merupakan
nama-nama, sebagai label dari beda-benda atau peristiwa). Apakah pemberian nama kepada benda secara sewenag-wenang
atau dengan perjanjian. Apakah penamaan berdasarkan factor sukarela atau dengan
perjajian dari semua pihak.
D.
MAKNA
Makna kata
merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik. Semantik berkedudukan
sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna suatu
kata dalam bahasa, sedangkan linguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa
lisan dan tulisan yang memiliki ciri-ciri sistematik, rasional, empiris sebagai
pemerian struktur dan aturan-aturan bahasa (Nurhayati, 2009:3).
Berdasarkan
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna suatu kata dalam bahasa dapat
diketahui dengan landasan ilmu semantik. Makna itu adalah apa yang kita artikan
atau apa yang kita maksud.
E.
JENIS-JENIS
MAKNA
Seorang ahli berpendapat,
seperti yang di kemukakan oleh Chair (1989:61) bahwasnnya jenis makna itu
terbagi menjadi beberapa kriteria. Berdasarkan jenis semantiknya dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu antara makna leksikal dan makna gramatikal,
berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata/lekse dapat dibedakan antara
makna referensial dan makna nonreferensial. Berdasarka ada tidaknya nilai rasa
pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotative dan makna konotatif.
Berdasarkan ketepatan maknyanya dikenal adanya makna kata dan makna isitilah
atau makna umum dan makna khusus. Dan yang terakhir berdasarkan kriteria lain
atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif,
kolokatif, reflektif, idiomatic dan sebagainya.
Pateda (2001:97)
membagi jenis-jenis makna menjadi dua puluh Sembilan di antaraya yaitu:
1. Makna
afektif merupakan makna yang muncul akibat reaksi pendengar
atau pembaca terhadap penggunaan kata atau kalimat.
2.
Makna deskriptif (descriptive
meaning) yang biasa disebut pula makna kognitif (cognitive meaning) atau
makna referensial (referential meaning) adalah makna yang terkandung di dalam
setiap kata.
3. Makna
ekstensi adalah makna yang mencakup semua ciri objek atau
konsep (Kridalaksana, 2008:148)
4. Makna
emotif adalah makna yang timbul akibat adanya
reaksi pembicara atau
sikap pembicara mengenai terhadap apa yang dipikirkan atau dirasakan.
5. Makna
gereflekter yaitu makna
kata yang sering berhubungan dengan kata atau ungkapan tabu.
6. Makna gramatikal
adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya kata dalam kalimat.
7. Makna
ideasional adalah makna yang muncul akibat
penggunaan kata yang memiliki konsep.
8. Makna
intensi adalah makna yang menekankan maksud pembicara.
9. Makna
khusus adalah makna kata atau istilah yang pemakaiannya
terbatas pada bidang tertentu.
10. Makna
kiasan adalah pemakaian kata yang maknanya tidak
sebenarnya.
11. makna
kognitif adalah makna yang ditunjukan oleh acuannya, makna
unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar
bahasa,
objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponennya.
12. Makna
kolokasi biasanya berhubungan dengan penggunaan beberapa kata
di dalam lingkungan yang sama.
13. Makna
konseptual adalah makna yang sesuai dengan
konsepnya.
14. Makna
konstruksi adalah makna yang terdapat di dalam
suatu konstruksi kebahasaan.
15. Makna
kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara
ujaran dan konteks.
16. Makna
leksikal adalah makna kata ketika kata itu berdiri sendiri,
entah dalam bentuk leksem atau berimbuhan yang maknanya kurang lebih tetap,
seperti yang dapat dibaca di dalam kamus bahasa tertentu.
17. Makna
lokusi
18. makna
luas menunjukan bahwa makna yang terkandung pada sebuah
kata lebih luas dari yang dipertimbangkan.
19. Makna
pictorial adalah makna yang muncul akibat bayangan pendengar
atau pembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca.
20. Makna
proposisional adalah makna yang muncul apabila
seseorang membatasi pengertiannya tentang sesuatu
21. Makna
pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata meskipun kata
tersebut tidak berada di dalam konteks kalimat.
22. Makna
referensial adalah makna yang langsung berhubungan
dengan acuan yang ditunjuk oleh kata.
23. Makna
sempit merupakan makna yang berwujud sempit pada
keseluruhan ujaran.
24. Makna
stilistika adalah makna yang timbul akibat
pemakaian bahasa.
25. Makna
tekstual adalah makna yang timbul setelah seseorang membaca
teks secara keseluruhan.
26. Makna
tematis akan dipahami setelah dikomunikasikan oleh pembicara
atau penulis melalui urutan kata-kata.
27. Makna
umum adalah makna yang menyangkut keseluruhan atau
semuanya, tidak menyangkut yang khusus atau tertentu
28. Makna
denotatif adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan
atas hubungan lugas antara suatu bahasa dan wujud di luar bahasa yang diterapi
satuan bahasa itu secara tepat.
29. Makna
konotatif adalah makna yang muncul sebagai akibat asosiasi
perasaan pemakai bahasa terhadap kata yang didengar atau kata yang dibaca.
Jadi yang dapat saya simpulkan
memangenai jenis-jenis makna bahwa jenis-jenis makna itu sangat beragam. Setiap
pendapat tentang jenis-jenis makna itu berbeda sehingga menyebabkan jenis-jenis
makna itu beragam.
DAFTAR
PUSTAKA
http://file.upi.edu/Direktori/DUALMODES/KEBAHASAAN_I/BBM_8.pdf
(diakses pada 6 mei 2017)
https://id.wikipedia.org/wiki/Semantik
(diakses pada 6 mei 2017)
http://eprints.uny.ac.id/8503/3/BAB%202-08205241008.pdf
(diakses pada 6 mei 2017)
https://www.slideshare.net/DheeriaEriantii/jenisjenis-semantik
(diakses pada 6 Mei 2017)