Senin, 15 Mei 2017

rangkuman semantik


Nama               : Sri Herdiana
NPM               :1640605002
LOKAL          : A
JURUSN         : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

A.    SEMANTIK
Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
Pendapat dari beberapa ahli mengenai simantik diantaranya yaitu:
Menurut Kridalaksana (2001:1993) Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan dengan struktur makna suatu wicara. Makna adalah maksud pembicaraan, pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi, serta perilaku manusia atau kelompok.
Menurut Tarigan (1985:7) semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat. Jadi semantik senantiasa berhubungan dengan makna yang dipakai oleh masyarakat penuturnya.
Jadi dari beberapa definisi mengenai semantik yang sudah saya baca yang dapat saya pahami bahwa semantik itu adalah pembelajaran tentang makna. Yang dimana biasanya semantik itu dikaitkan dengan dua aspek lain yaitu aspek sintaksis dan juga aspek pragmatika.
B.     JENIS-JENIS SEMANTIK
Ada beberapa jenis semantik, yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari bahasa penyelidikannya adalah leksikon dari bahasa itu, maka jenis semantiknya disebut semantik leksikal. Semantik leksikal ini diselidiki makna yang ada pada leksem-leksem dari bahasa tersebut. Oleh kerena itu, makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut makna leksikal. Leksem adalah istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik untuk menyebut satuan-bahasa bermakna. Istilah leksem ini kurang lebih dapat dipadankan dengan istilah kata yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sistaksis, dan yang lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal bebas terkecil (Chaer, 1990 : 7-8).
Jenis-jenis semantik antara lain sebagai berikut :
1.      Semantik behavioris
Dalam semantic behavioris, maka berada dalam posisi dintara stimulus dan respon atau pertanyan dan jawaban.
Contoh : ibu menyuapkan makanan pada si bayi
2.      Semantik leksikal
Semantik leksikal merupakan pembahasan makna yang lebih menitikberatkan pada makna kata sebagai satuan mandiri.
Contoh : absurd (KBBI) ; tidak masuk akal, mustahil
3.      Semantik gramtikal
Semantik gramatikal merupakan kajian makna dalam semantik yang khusus mengkaji makna dalam satuan kalimat.
Contoh: masih duduk, kaka sudah tidur.
4.      Semantik logika
Pada semantik logika, pengkajian makna lebih di arahkan pada logika. Artinya, satiap kalimat akan di lihat dari logikanya untuk mendapatkan sebuh makna kalimat tersebut.
5.      Semantik deskriptif
Semantik deskriptif merupakan salah satu kajian semantic yang membahas tentang makna dalam konteks terkini.
Contoh :
(sekarang)        : juara : orang yang mendapat peringkat teratas.
(sebelumnya)   : juara : pengatur atau pelerai  dalam perssabungan ayam
6.      Semantic historis
Dalam semanti historis, studi makna yang di kaji lebih memacu pada rentangan waktu, bukan perubahan bentuk kata. Padahal ini, semantic membandingkan kata-kata berdasarkan periode atau antar kata pada masa tertentu dengan kata pada bahasa lain.
Contoh:
(b.indonesia)   : padi
(b.jawa)           : pari
Fonem/d/dan/r/berkorespondensi
7.      Semantik generative
Semantik dalam aliran semantic generative memiliki beberapa konsep, yakni kompetensi, struktur luar dan struktur dalam.
8.      Semantik struktural
Semantik struktural bermula dari pandangan struktural yang di pelopori oleh Saussure. Para penganut strukturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap bahasa merupakan sebuah sistem yang terdiri dari beberapa struktur yang unik dan terdiri dari satuan-satuan tertentu.


C.    UNSUR SEMANTIK
1.      Tanda dan Lambang (simbol)
Tanda dan lambang (simbol) merupakan dua unsur yang terdapat dalam bahasa. Tanda dan lambang (simbol) dikembangkan menjadi sebuah teori yang dinamakan semiotik. Semiotik mempunyai tiga aspek yang sangat berkaitan dengan ilmu bahasa, yaitu aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek pragmatik.
Pertama aspek sintaksis, sintaksis semiotik merupakan studi tentang relasi yang sering kali tertuju pada pencarian peraturan-peraturan yang pada dasarnya berfungsi secara bersama-sama. Sintaksis semiotik tidak dapat membatasi diri dengan hanya mempelajari hubungan antartanda dalam suatu sistem yang sama. Sejauh perhatian utama kita ditujukan pada hubungan antartanda, maka kita bergerak dalam bidang sintaksis semiotik. Kedua, aspek semantik, semantik semiotik merupakan penelitian yang tertuju pada hubungan antara tanda dan denotatumnya, dan interpretasinya. Ketiga, aspek pragmatik, jika yang menjadi objek penelitian adalah hubungan antara tanda dan pemakaian tanda, maka kita memasuki bidang pragmatik semiotic.
Kata semiotik berasal dari kata Yunani semeion, yang berarti ‘tanda’, maka semiotik berarti ‘ilmu tanda’. Semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan 49 dengan pengkajiaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (van Zoest, 1993: 1). Selanjutnya, semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Hoed, 1992 dalam Nurgiyantoro, 2000). Menurut Sobur (2001), semiotik merupakan suatu model dari ilmu pengetahuan sosial yang memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan “tanda”. Dengan demikian, semiotik mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda.
Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain, yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini, walau harus diakui bahwa bahasa adalah sistem bahasa yang paling lengkap dan sempurna (Nurgiyantoro, 2000: 40).
2.       Makna Leksikal dan Hubungan Referensial
Makna leksikal merupakan unsur tertentu yang melibatkan hubungan antara makna kata-kata yang siap dianalisis. Makna leksikal dapat berupa categorematical dan syncategorematical, yaitu semua kata dan infleksi, kelompok alamiah dengan makna struktural yang harus didefinisikan (dimaknai) dalam satuan konstruksi.
Hubungan referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia luar bahasa yang diacu oleh pembicaraan. Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep atau reference) dan sesuatu yang diacu atau referent adalah hubungan tidak langsung.
Jadi dari penjelasan tersebut yang dapat saya simpulkan mengenai makna leksikal dan hubungan referensial bahwasannya makna leksikal itu adalah makna hubungan antara kata-kata dengan unsur-unsur tertentu dalam sebuah peristiwa bahasa. Hubungannya antara kata, makna kata, dan dunia kenyataan di sebut hubungan referensial. Hubungan referensial itu adalah hubungan-hubungan yang terdapat pada, antar (1) kata sebagai satuan fonologis yang membawa makna, (2) makna atau konsep yang dibentuk oleh kata, dan (3) dunia kenyataan yang ditunjuk (diacu) oleh kata.

3.      Penamaan
Kridalaksana (1993) mengartikan bahwa penamaan itu adalah proses pencarian lambang bahasa untuk menggambarkan objek konsep, proses, dan sebagainya. Biasanya dengan memanfaatkan perbendaharaan yang ada antara lain dengan perubahan-perubahan makna yang mungkin atau dengan penciptaan kata atau keompok kata.
Nama itu merupakan kata-kata yang menjadi label setiap makhluk, benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia. Seseorang mendapat kata-kata dengan cara belajar dan menirukan bunyi-bunyi yang mereka dengar untuk pertama kalinya. Nama-nama itu sendiri muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan beragam, alam sekitar manusia berjenis-jenis. Terkadang manusia sulit memberikan nama satu per satu. Oleh karena itu, muncul nama-nama kelompok misalnya binatang, ikan, burung dan sebgainya. Dan juga tumbuh-tumbuhan yang merupakan jenis binatang, jenis tumbuhan, jenis burung, dan jenis-jenis yang lain yang terdapat di dunia.
Penamaan suatu benda di setiap daerah atau di lingkungan kebudayaan tertentu tidak semuanya sama, misalnya:
padi bahasa Indonesia
pare bahasa Sunda
pale bahasa Gorontalo.
Bagaimana hubungan antara nama dengan benda sampai berbeda. Jadi hubungan hayati antara nama dan benda (kata-kata merupakan nama-nama, sebagai label dari beda-benda atau peristiwa).  Apakah pemberian nama kepada benda secara sewenag-wenang atau dengan perjanjian. Apakah penamaan berdasarkan factor sukarela atau dengan perjajian dari semua pihak.
D.    MAKNA
Makna kata merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik. Semantik berkedudukan sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna suatu kata dalam bahasa, sedangkan linguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa lisan dan tulisan yang memiliki ciri-ciri sistematik, rasional, empiris sebagai pemerian struktur dan aturan-aturan bahasa (Nurhayati, 2009:3).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna suatu kata dalam bahasa dapat diketahui dengan landasan ilmu semantik. Makna itu adalah apa yang kita artikan atau apa yang kita maksud.
E.     JENIS-JENIS MAKNA
Seorang ahli berpendapat, seperti yang di kemukakan oleh Chair (1989:61) bahwasnnya jenis makna itu terbagi menjadi beberapa kriteria. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan menjadi 2 yaitu antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata/lekse dapat dibedakan antara makna referensial dan makna nonreferensial. Berdasarka ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotative dan makna konotatif. Berdasarkan ketepatan maknyanya dikenal adanya makna kata dan makna isitilah atau makna umum dan makna khusus. Dan yang terakhir berdasarkan kriteria lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatic dan sebagainya.
Pateda (2001:97) membagi jenis-jenis makna menjadi dua puluh Sembilan di antaraya yaitu:
1.      Makna afektif merupakan makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan kata atau kalimat.
2.      Makna deskriptif (descriptive meaning) yang biasa disebut pula makna kognitif (cognitive meaning) atau makna referensial (referential meaning) adalah makna yang terkandung di dalam setiap kata.
3.      Makna ekstensi adalah makna yang mencakup semua ciri objek atau konsep (Kridalaksana, 2008:148)
4.      Makna emotif adalah makna yang timbul akibat adanya
reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai terhadap apa yang dipikirkan atau dirasakan.
5.      Makna gereflekter yaitu makna kata yang sering berhubungan dengan kata atau ungkapan tabu.
6.      Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya kata dalam kalimat.
7.      Makna ideasional adalah makna yang muncul akibat penggunaan kata yang memiliki konsep.
8.      Makna intensi adalah makna yang menekankan maksud pembicara.
9.      Makna khusus adalah makna kata atau istilah yang pemakaiannya terbatas pada bidang tertentu.
10.  Makna kiasan adalah pemakaian kata yang maknanya tidak sebenarnya.
11.  makna kognitif adalah makna yang ditunjukan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar
bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponennya.
12.  Makna kolokasi biasanya berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama.
13.  Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya.
14.  Makna konstruksi adalah makna yang terdapat di dalam suatu konstruksi kebahasaan.
15.  Makna kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan konteks.
16.  Makna leksikal adalah makna kata ketika kata itu berdiri sendiri, entah dalam bentuk leksem atau berimbuhan yang maknanya kurang lebih tetap, seperti yang dapat dibaca di dalam kamus bahasa tertentu.
17.  Makna lokusi
18.  makna luas menunjukan bahwa makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang dipertimbangkan.
19.  Makna pictorial adalah makna yang muncul akibat bayangan pendengar atau pembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca.
20.  Makna proposisional adalah makna yang muncul apabila seseorang membatasi pengertiannya tentang sesuatu
21.  Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata meskipun kata tersebut tidak berada di dalam konteks kalimat.
22.  Makna referensial adalah makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata.
23.  Makna sempit merupakan makna yang berwujud sempit pada keseluruhan ujaran.
24.  Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa.
25.  Makna tekstual adalah makna yang timbul setelah seseorang membaca teks secara keseluruhan.
26.  Makna tematis akan dipahami setelah dikomunikasikan oleh pembicara atau penulis melalui urutan kata-kata.
27.  Makna umum adalah makna yang menyangkut keseluruhan atau semuanya, tidak menyangkut yang khusus atau tertentu
28.  Makna denotatif adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas hubungan lugas antara suatu bahasa dan wujud di luar bahasa yang diterapi satuan bahasa itu secara tepat.
29.  Makna konotatif adalah makna yang muncul sebagai akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap kata yang didengar atau kata yang dibaca.

Jadi yang dapat saya simpulkan memangenai jenis-jenis makna bahwa jenis-jenis makna itu sangat beragam. Setiap pendapat tentang jenis-jenis makna itu berbeda sehingga menyebabkan jenis-jenis makna itu beragam.







DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Semantik  (diakses pada 6 mei 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar