Senin, 03 April 2017

rangkuman morfologi




RANGKUMAN
MORFOLOGI
Dosen pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd


Description: F:\IMG_20170216_202444.jpg




Di Susun Oleh :
NAMA        :  SRI HERDIANA
NPM           :  1640605002
LOKAL      :  A


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
 UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN

A.               Pengertian Morfologi
          Kata morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani. Morphologie terdiri dari dua kata yaitu, morphe yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata.
          Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu :
       a.       Kata dasar, contohnya sepeda
       b.       Kata berimbuhan, contoh berepeda
       c.       Kata majemuk, contohnya sapu tangan
          Jos Daniel Perera memberi batasan morfologis (proses), yaitu Morfemis adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. misalnya sepeda menjadi bersepeda arti (sanksekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukan arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda.
B.               Proses Morfologi
          Proses morfologik ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan). Disamping tiga proses morfologik tersebut, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disini disebut zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata – kata makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya termasuk golongan kata verbal yang transitif
C.               Macam – macam Proses Morfologi
1)             Proses Pembubuhan Afiksasi
          Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian. Afiksasi terdiri atas:
       a.       prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-).
       b.       sufiks (–kan, –an, –i),
       c.       infiks (–el-, -em-, -er-),
       d.      konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
       e.       simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
2)             Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
          Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh :       Keras+kepala = keras kepala
                     Kamar+mandi = kamar mandi
                     Mata+pelajaran = mata pelajaran
                     Kumis+kucing = kumis kucing
          Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing’ bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.
·                Ciri – Ciri Majemuk
Jika kursi malas merupakan kalusa, tentu kata kursi dapat di ikuti kata “itu” menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat didahului kata tidak, sangat, atau agak, menjadi *kursi itu tidak malas; *kursi itu sangat malas; *kursi itu agak malas. Jelas bahwa semua itu tidak mungkin, berbeda dengan adik malas yang dapat diperluas menjadi adik itu malas; adik itu sangat malas, adik itu agak malas.Jika kursi malas itu merupakan frase, tentu dapat disela dengan kata menjadi *kursi yang malas seperti halnya adik malas yang di antara unsurnya dapat ditambahkan kata yang menjadi adik yang malas.
            Bedasarkan ciri – ciri yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa kursi malas tidak merupakan klausa, dan juga tidak merupakan frase, melainkan merupakan kata majemuk. Dengan melihat ciri – ciri kata majemuk diatas, dapat ditentukan satuan mana yang merupakan kata mejemuk dan satuan mana yang tidak merupakan kata mejemuk, ciri – ciri itu sebagai berikut :
-           Melihat apakah salah satu unsurnya berupa pokok kata Contoh :
       a.       Pasukan tempur, Pasukan +Tempur
karena kata tempur merupakan pokok kata, jadi pasukan tempur merupakan kata majemuk.
       b.       Lomba lari, Lomba + lari
karena kata lomba merupakan pokok kata, jadi lomba lari merupakan kata majemuk
-           Kalau dipisahkan dengan kata (itu,yang, dll.) tidak membentuk kata yang benar. Contoh :   Dipisahkan dengan kata “itu”.
                        “Kursi itu malas” Kata majemuk
                        “Adik itu malas” frase
jadi, dapat disimpulkan bahwa “Kursi itu malas” merupakan kata mejemuk karena merupakan kata yang tidak benar (salah). sedangkan “Adik itu malas” merupakan kata yang benar dan jelas artinya.
3)             Pengulangan (Reduplikasi)
            Pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
            Setiap kata ulang sudah pasti memilki bentuk dasr. Kata – kata seperti sia – sia, mondar – mandir dll., dalam tinjauan deskriftif tidak dapat dogolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari deretan morfologik dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata – kata tersebut. Secara historic atau komparatif, mungkin kata – kata itu dapat dimasukan kedalam golongan kata ulang.
·                Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
       a.       Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek
Contoh : Berkata – kata dari bentuk dasar berkata.
Pada cara ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya setinggi – tingginya ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata keterangan.
       b.       Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh : Mepertahan – tahankan
Bentuk dasarnya bukan mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia.
·                Macam – Macam Pengulangan
a)             Pengulangan Seluruh
            Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanapa perubahan fonem adan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks., misalnya sepeda sepeda – sepeda.
b)             Pengulangan
            sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. misalnya mengambil – ambil.
c)             Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
            Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi bersama – sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama – sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, kereta – keretaan.
d)            Pengulangan Dengan Perubahan Fonem Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit
   Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.

A.               Pengertian Morfem
            Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya. morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal,morfem mempunyai makna.
            Dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata,frase, klausa,kalimat. Dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan
Contoh : 
-      Dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingangkan dengan kata:
1)        Di ambil - ambil
2)        Di bawa - bawa
3)        Di curi - curi
4)        Di dukung - dukung
B.               Jenis-jenis Morfem
            Berdasarkan criteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139).
1.             Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
2.             Ditinjau dari Hubungan Struktur
            Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
            Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
            Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.
            Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan.
            Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan.
            Berdasarkan pernyataan di atas, kita akan berpendapat bahwa untuk “membetinakan” morfem “jantan” bisa dilakukan dengan cara menambahkan morfem-morfem lain. Itu bisa saja, tetapi kita harus ingat bahwa morfem tersebut mempunyai bermacam-macam alomorf. Jika diketahui bentuk jantannya, kita tidak dapat memastikan dengan tegas bentuk “betinanya”. Misal diketahui bentuk jantan / fraw / ‘ dingin ‘ kita tidak dapat secara tepatmematikan bahwa bentuk ‘’ betinanya “” / frawd /. Berbeda jika bentuk betinanya yang diketahui, bentuk jantannya akan dapat dipastikandengan mudah yakni menghilangkan sebuah fonem akhir, Misalnya / gras / :gemuk: merupakan bentuk betina, maka jantannya patilah / gra /.
3.             Ditinjau dari Hubungan Posisi
            Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
            Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
            Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
            Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).
4.             Ditinjau dari Distribusinya
            Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau.
            Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar: bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok.
             Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siur yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang, tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem unik.
             

DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi, Hasan, dkk (peny). 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan (Fanologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI PRESS.


Contoh pargraf berita

Sebuah rumah impian yang dijadikan panti asuhan telah resmi milik mereka. Beberapa karyawan telah ada di panti asuhan itu. Sebab panti asuhan yang dibilang mewah itu dibeli pak Basran, dan nama panti itu bernama panti asuhan kebaikan. Anak-anak sangat senang karena di bagian depan panti asuhan ada taman, juga ada beberapa mainan. Mereka semua tak khawatir pada kebersihan ataupun soal masak memasak, karena semua itu telah dikerjakan oleh karyawan dan beby sister. Pembiayaannya semua ditanggung oleh pak Basran. Mereka berenam –basran, Wisnu, Toha, Ahmad, Karin, dan Risma- tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah SWT. Mereka semua menangis, menangis bersama, bahagia bersama. Pak Basran juga menangis, semuanya menangis, semuanya menangis bahagia. “pak Basran, kami sngat berterima kasih pada bapak…” suara Bahran terpotong-potong karena isak tangis. “Taka pa, ini semua juga karena kalian.”

1.      Yang termasuk morfem terikat yaitu :
Dijadikan, dibilang, dibeli, kebaikan, dibagian, mainan, kebersiahan, memasak, ditanggung, menangis, bersama, berterima, asuhan, pembiayaannya, berenam, mengucap,

2.      Yang termasuk morfem  bebas yaitu :
Rumah, panti, mewah, nama, sangat, senang, depan, taman, khawatir, soal,  karyawan, baby, sister, syukur, bahagia, tangis.

Proses morfologi dalam berita tersebut :
1.      Proses pembubuhan afiksasi
ü  Prefiks :
Bernama, Memasak, Ditanggung, Berenam, Mengucap, Menangis, Bersama, Berterima, Terpotong
ü  Sufiks :
Asuhan, Mainan
ü  Infiks :
Telah, Beberapa, Mereka, Semua, Kebersihan, Memasak, Kerjakan, Berenam, Bersama
ü  Konfiks :
Dijadikan, Kebaikan, Dibagian, Kebersiahan
2.      Proses pemajemukan
Panti + asuhan = panti asuhan
Baby + sister = baby sister
3.      Proses pengulangan (reduplikasi)
·         Anak-anak
·         Masak-memasak
·         Henti-hentinya

1 komentar:

  1. Why casinos are rigged - Hertzaman - The Herald
    In the UK, casino 메이피로출장마사지 games are worrione rigged and there is evidence of fraud, crime or https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ disorder or an individual's involvement. 바카라 사이트 There are also febcasino many

    BalasHapus