RANGKUMAN
“MORFOLOGI”
Dosen pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd

Di Susun Oleh :
NAMA :
SRI HERDIANA
NPM :
1640605002
LOKAL
: A
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
A.
Pengertian Morfologi
Kata morfologi berasal dari kata
morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani. Morphologie terdiri
dari dua kata yaitu, morphe yang
berarti bentuk dan logos yang berarti
ilmu. Jadi,
secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian
linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata
dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan
kelas kata.
Menurut Ramlan pengertian morfologi
adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta
perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan
kata. Bentuk kata yaitu :
a. Kata
dasar, contohnya sepeda
b. Kata
berimbuhan, contoh berepeda
c. Kata
majemuk, contohnya sapu tangan
Jos Daniel Perera memberi
batasan morfologis (proses), yaitu Morfemis adalah proses perubahan dari
golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan
tetapi dengan kata dasar yang sama. misalnya sepeda menjadi bersepeda arti
(sanksekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukan
arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda.
B.
Proses Morfologi
Proses morfologik ialah
proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya.
Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan
afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan
(pemajemukan). Disamping tiga proses morfologik tersebut, dalam bahasa
Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disini disebut zero.
Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata – kata makan,
minum, minta, dan mohon, yang semuanya termasuk golongan kata verbal yang
transitif
C.
Macam – macam Proses Morfologi
1)
Proses
Pembubuhan Afiksasi
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan
kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yang dapat berdiri
sendiri disebut sebagai morfem bebas. Kata dasar dapat berupa kata
benda, kata sifat, kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem
terikat akan membentuk kata jadian. Afiksasi terdiri atas:
a.
prefiks
(ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-).
b.
sufiks
(–kan, –an, –i),
c.
infiks
(–el-, -em-, -er-),
d.
konfiks
(ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i,
ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e.
simulfiks
(memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
2)
Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
Komposisi
adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang
telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti
baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh
: Keras+kepala = keras kepala
Kamar+mandi = kamar mandi
Mata+pelajaran = mata
pelajaran
Kumis+kucing = kumis kucing
Kumis kucing dalam arti ‘sejenis
tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor
kucing’ bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri),
tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.
·
Ciri – Ciri
Majemuk
Jika kursi malas
merupakan kalusa, tentu kata kursi dapat di ikuti kata “itu” menjadi *kursi itu
malas, kata malas dapat didahului kata tidak, sangat, atau agak, menjadi *kursi
itu tidak malas; *kursi itu sangat malas; *kursi itu agak malas. Jelas bahwa semua
itu tidak mungkin, berbeda dengan adik malas yang dapat diperluas menjadi adik
itu malas; adik itu sangat malas, adik itu agak malas.Jika kursi malas itu
merupakan frase, tentu dapat disela dengan kata menjadi *kursi yang malas
seperti halnya adik malas yang di antara unsurnya dapat ditambahkan kata yang
menjadi adik yang malas.
Bedasarkan ciri – ciri yang diuraikan diatas, dapat
disimpulkan bahwa kursi malas tidak merupakan klausa, dan juga tidak merupakan
frase, melainkan merupakan kata majemuk. Dengan melihat ciri – ciri kata
majemuk diatas, dapat ditentukan satuan mana yang merupakan kata mejemuk dan
satuan mana yang tidak merupakan kata mejemuk, ciri – ciri itu sebagai berikut
:
-
Melihat
apakah salah satu unsurnya berupa pokok kata Contoh :
a. Pasukan tempur, Pasukan +Tempur
karena kata
tempur merupakan pokok kata, jadi pasukan tempur merupakan kata majemuk.
b. Lomba lari, Lomba + lari
karena kata
lomba merupakan pokok kata, jadi lomba lari merupakan kata majemuk
-
Kalau
dipisahkan dengan kata (itu,yang, dll.) tidak membentuk kata yang benar. Contoh
: Dipisahkan
dengan kata “itu”.
“Kursi
itu malas” Kata majemuk
“Adik
itu malas” frase
jadi, dapat disimpulkan
bahwa “Kursi itu malas” merupakan kata mejemuk karena merupakan kata yang tidak
benar (salah). sedangkan “Adik itu malas” merupakan kata yang benar dan jelas
artinya.
3)
Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik,
baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil
pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan
bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Setiap kata ulang
sudah pasti memilki bentuk dasr. Kata – kata seperti sia – sia, mondar – mandir
dll., dalam tinjauan deskriftif tidak dapat dogolongkan kata ulang karena
sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari deretan morfologik dapat
ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata –
kata tersebut. Secara historic atau komparatif, mungkin kata – kata itu dapat
dimasukan kedalam golongan kata ulang.
·
Cara
Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
a.
Pengulangan
tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek
Contoh :
Berkata – kata dari bentuk dasar berkata.
Pada cara
ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya setinggi – tingginya
ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata
keterangan.
b.
Bentuk dasar berupa
satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh : Mepertahan –
tahankan
Bentuk dasarnya bukan
mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam
pemakaian bahasa Indonesia.
·
Macam – Macam
Pengulangan
a)
Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah
pengulangan seluruh bentuk dasar, tanapa perubahan fonem adan tidak berkombinasi
dengan proses perubahan afiks., misalnya sepeda sepeda – sepeda.
b)
Pengulangan
sebagian ialah pengulangan sebagian
dari bentuk dasarnya. misalnya mengambil – ambil.
c)
Pengulangan Yang
Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
Pengulangan yang berkombinasi dengan
proses pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi
dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi bersama – sama
dengan proses pembubuhan afiks dan bersama – sama pula mendukung satu fungsi.
Misalnya, kereta – keretaan.
d)
Pengulangan Dengan
Perubahan Fonem Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya
sangat sedikit
Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya,
dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak –
balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan
fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.
A.
Pengertian Morfem
Morfologi mengenal unsur dasar atau
satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya. morfem adalah satuan gramatikal
yang terkecil sebagai satuan gramatikal,morfem mempunyai makna.
Dalam ilmu bahasa dikenal satuan
seperti kata,frase, klausa,kalimat. Dalam praktek morfem dapat dikenal dan
ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung
kesamaan dan pertentangan
Contoh
:
- Dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingangkan dengan kata:
1)
Di ambil - ambil
2)
Di bawa - bawa
3)
Di curi - curi
4)
Di dukung - dukung
B.
Jenis-jenis Morfem
Berdasarkan criteria tertentu, kita
dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat
ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186;
Prawirasumantri, 1985:139).
1.
Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian
morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural
dan hubungan posisi.
2.
Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem
dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan)
yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
Morfem yang bersifat aditif yaitu
morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti
pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut
tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
Morfem yang bersifat replasif yaitu
morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya.
Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan
jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk
menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/,
/mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ←
u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan
masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua
merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan
morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian
itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/
diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh
/ ε/ pada kata man dan men.
Morfem bersifat substraktif,
misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk
ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara
ketatabahasaan.
Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang
dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir
itu merupakan morfem jantan.
Berdasarkan pernyataan di atas, kita
akan berpendapat bahwa untuk “membetinakan” morfem “jantan” bisa dilakukan
dengan cara menambahkan morfem-morfem lain. Itu bisa saja, tetapi kita harus
ingat bahwa morfem tersebut mempunyai bermacam-macam alomorf. Jika diketahui
bentuk jantannya, kita tidak dapat memastikan dengan tegas bentuk “betinanya”.
Misal diketahui bentuk jantan / fraw / ‘ dingin ‘ kita tidak dapat secara
tepatmematikan bahwa bentuk ‘’ betinanya “” / frawd /. Berbeda jika bentuk
betinanya yang diketahui, bentuk jantannya akan dapat dipastikandengan mudah
yakni menghilangkan sebuah fonem akhir, Misalnya / gras / :gemuk: merupakan
bentuk betina, maka jantannya patilah / gra /.
3.
Ditinjau
dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga
macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan.
Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem
imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu
/ ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat
sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata /
telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping
telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada
kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/
terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan
/siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan,
terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/
maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem
kontinu ( discontinous morpheme ).
4.
Ditinjau
dari Distribusinya
Ditinjau
dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem
yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi
sebagai kata, misalnya : bunga, cinta,
sawah, kerbau.
Morfem
ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa,
misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an.
Disamping itu ada bentuk lain seperti juang,
gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan
dalam komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk
seperti bunga, cinta, sawah,
dan kerbau dengan istilah akar: bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang,
gurau dengan istilah pokok.
Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut
dengan istilah dasar afiks atau
imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi
seperti belia, renta, siur yang
masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang,
tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem unik.
DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga.
Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi, Hasan, dkk (peny). 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi
ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan (Fanologi, Morfologi dan
Semantik). Bandung: UPI PRESS.
Contoh pargraf berita
Sebuah rumah impian yang dijadikan panti asuhan telah resmi
milik mereka. Beberapa karyawan telah ada di panti asuhan itu. Sebab panti
asuhan yang dibilang mewah itu dibeli pak Basran, dan nama panti itu bernama
panti asuhan kebaikan. Anak-anak sangat senang karena di bagian depan panti
asuhan ada taman, juga ada beberapa mainan. Mereka semua tak khawatir pada
kebersihan ataupun soal masak memasak, karena semua itu telah dikerjakan oleh
karyawan dan beby sister. Pembiayaannya semua ditanggung oleh pak Basran.
Mereka berenam –basran, Wisnu, Toha, Ahmad, Karin, dan Risma- tak
henti-hentinya mengucap syukur pada Allah SWT. Mereka semua menangis, menangis
bersama, bahagia bersama. Pak Basran juga menangis, semuanya menangis, semuanya
menangis bahagia. “pak Basran, kami sngat berterima kasih pada bapak…” suara
Bahran terpotong-potong karena isak tangis. “Taka pa, ini semua juga karena
kalian.”
1. Yang
termasuk morfem terikat yaitu :
Dijadikan, dibilang,
dibeli, kebaikan, dibagian, mainan, kebersiahan, memasak, ditanggung, menangis,
bersama, berterima, asuhan, pembiayaannya, berenam, mengucap,
2. Yang
termasuk morfem bebas yaitu :
Rumah, panti, mewah,
nama, sangat, senang, depan, taman, khawatir, soal, karyawan, baby, sister, syukur, bahagia,
tangis.
Proses morfologi dalam berita tersebut :
1.
Proses pembubuhan
afiksasi
ü Prefiks :
Bernama, Memasak,
Ditanggung, Berenam, Mengucap, Menangis, Bersama, Berterima, Terpotong
ü Sufiks :
Asuhan,
Mainan
ü Infiks :
Telah, Beberapa, Mereka, Semua, Kebersihan, Memasak, Kerjakan, Berenam, Bersama
ü Konfiks :
Dijadikan, Kebaikan, Dibagian, Kebersiahan
2.
Proses
pemajemukan
Panti + asuhan =
panti asuhan
Baby + sister =
baby sister
3.
Proses pengulangan
(reduplikasi)
·
Anak-anak
·
Masak-memasak
·
Henti-hentinya
Why casinos are rigged - Hertzaman - The Herald
BalasHapusIn the UK, casino 메이피로출장마사지 games are worrione rigged and there is evidence of fraud, crime or https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ disorder or an individual's involvement. 바카라 사이트 There are also febcasino many